Di tengah-tengah kelesuan ekonomi dan maraknya PHK, mahasiswa yang mengambil minat perkebunan sawit, tidak pernah merasa risau. Mereka tetap optimis karena alumninya boleh dibilang tidak ada yang menganggur.
Demikianlah, setidaknya inti pernyataan dari wawancara IPOSS dengan Rektor INSTIPER Yogyakarta, Dr. Ir Harsa Wardana M.Eng, yang dilakukan menjelang diskusi buku “Sawit, Anugerah yang Perlu Diperjuangkan”, di Yogyakarta pada 25 September 2024. Rektor yang merupakan alumni Universitas Bonn, Jerman ini menggarisbawahi bahwa selama ia menjabat, lebih 5 tahun, rata-rata mahasiswa yang belajar sawit sudah “dipesan” perusahaan sebelum selesai kuliah. Untuk itulah, pihak universitas memberikan pembekalan secara maksimal agar alumninya benar-benar siap di lapangan.
Tidak hanya itu, gaji awal bagi mereka yang bekerja di perusahaan sawit ternyata diatas UMP DKI, sehingga mencukupi untuk kebutuhan harian, yakni pada kisaran Rp 8 juta. “Itupun biasanya masih mendapatkan fasilitas akomodasi dan kemungkinan transportasi,” ujar Harsa berninar-binar.
Konsekuensi dari masa depan yang cerah tersebut, dalam kampus yang terlihat hijau itu, mahasiswa sudah mulai aktif kuliah pagi jam 07.00. Selain itu mereka juga diwajibkan untuk aktif minimal dalam salah satu organisasi kemahasiswaan serta mengikuti pembinaan mental lapangan. Tidak heran kalau mereka terlihat cukup berdisiplin dalam melaksanakan aneka tugas yang dibebankan oleh universitas. Wajah-wajah mereka menampakkan optimisme dan keyakinan bahwa sawit akan menjadi berkah dalam kehidupan mereka di masa datang. ()
[gallery columns="2" size="medium" ids="3489,3491,3493,3494,3497,3498" orderby="rand"]