Think tank “Indonesia Palm Oil Strategic Studies” (IPOSS) melakukan
kick off meeting (19/3/23) bersama Garuda dan Citilink untuk riset penggunaan SAF (
sustainable aviation fuel) sebagai substitusi bahan bakar penerbangan (avtur) yang salah satu
feedstock-nya bisa bersumber dari minyak sawit. IPOSS memiliki perhatian lebih (
concern) atas melimpahnya sawit di Indonesia dan keterlibatan 18 juta penduduk Indonesia di dalam industri sawit.
Dewan Pengarah IPOSS, Sofyan Djalil menyatakan, Indonesia tidak perlu khawatir tentang target
net zero emission yang salah satunya akan diimplementasikan di industri penerbangan nasional. Dengan luas lahan sawit Indonesia, lebih dari 16 juta hektar, dan besarnya volume minyak goreng yang dihasilkan, tersedia banyak sekali bahan baku SAF baik dari minyak sawit maupun limbah (POME dan minyak jelantah), sehingga maskapai nasional tetap bisa memenuhi kebutuhan SAF (
sustainable aviation fuel) yang akan diwajibkan dalam beberapa tahun mendatang. “Karenanya kita ingin SAF ini terus memberikan makna dalam kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Dalam pertemuan di kantor Garuda tersebut, Dirut maskapai Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, mendukung atas inisiatif riset IPOSS ini. Dikatakan, berdasarkan observasinya, Garuda Indonesia juga memiliki komitmen yang sama, bahkan akan membentuk departemen baru yang disebut
sustainability yang akan mengurus tata kelola pemanfaatan bahan bakar ramah lingkungan ini. Ia juga mengungkapkan hasil riset internal, di mana Gen-Z Indonesia sebenarnya sangat mendukung implementasi bahan baku ramah lingkungan aneka aktifitas perusahaan yang ramah lingkungan.
Dalam pertemuan yang terkesan tidak terlalu formal tersebut, hadir juga para pejabat teras Garuda Indonesia, Citilink dan juga IPOSS. Sebagaimana diketahui, Garuda bekerjasama dengan Pertamina telah menguji coba penerbangan dengan avtur berkomponen inti sawit itu menjelang akhir tahun lalu. Penerbangan dari Jakarta ke Solo itu berhasil dan tanpa mengalami kendala. Sambutan masyarakat sangat positif atas capaian ini.
Untuk mendukung keinginan mempercepat implementasi SAF, pengurus IPOSS, Nanang Hendarsah, menyatakan bahwa lembaga riset yang dipimpinnya ini utamanya akan meneliti bagi aspek pembiayaan SAF terkait beban biaya tambahan (
surcharge). Hasil kajian ini, bisa menjadi salah satu bahan pertimbangan pengambilan keputusan baik Pemerintah maupun maskapai penerbangan seperti Garuda dan Citilink. “Termasuk siapa yang akan menanggung
surcharges.”
Maskapai penerbangan internasional diwajibkan untuk menggunakan bioavtur paling lambat mulai tahun 2025 sehingga semua penerbangan diharapkan akan bersahabat dengan lingkungan. ()
