Setelah melakukan negosiasi langsung antar presiden, akhirnya Presiden Trump mengumumkan produk Indonesia yang masuk negeri Paman Sam hanya dikenai tarif 19 persen, turun dari 32 persen yang dipatok pada awal bulan Juli. Bagi sebagian ekonom, angka ini dinilai masih cukup tinggi dan berdampak negatif untuk beberapa produk Indonesia mengingat tarif produk AS ke Indonesia 0 persen. Tapi lain ceritanya dengan produk yang bernama sawit dan turunannya.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, sangat menyambut baik tarif baru tersebut dan optimis bahwa kedepan, sawit Indonesia akan “merajai” Amerika Serikat. Kegirangan Menteri yang sering disebut “Mr. Clean” ini cukup beralasan karena produk yang sama dari pesaing utama Indonesia, yakni Malaysia, dikenakan tarif yang lebih tinggi, 25 persen. Perbedaan tarif sebesar 6 persen inilah yang membuat sang Menteri girang bukan main.
"Kita bersyukur, (dari wacana awal 32 persen) kini turun jadi 19 persen. Malaysia 25 persen. Artinya apa? Ada celah di sana untuk pertanian Indonesia. Ada celah di sana untuk CPO Indonesia," ujar Amran, sebagaimana dikutip Inilah.Com, Jumat (18/7/2025). "Malaysia 25 persen, Indonesia 19 persen kan? Terus kalau CPO kita masuk, yang mana menang? Indonesia,” imbuhnya.
Saat ini, Indonesia merupakan eksportir terbesar minyak kelapa sawit dan turunannya yang bersaing cukup ketat dalam memperebutkan pangsa pasar Amerika Serikat dengan negara jiran Malaysia. Dalam daftar 14 negara yang dikenakan tarif oleh Trump awal Juli, Malaysia dikenakan 25 persen atau 6 persen lebih tinggi dibandingkan Indonesia saat ini. Walaupun eksportir kita dibebani relatif lebih banyak pungutan dalam negeri, hitung-hitungan diatas kertas masih lebih murah harganya saat dipasarkan di Amerika Serikat.
Secara umum, tahun lalu, negara importir minyak sawit mentah atau CPO dan turunannya dari Indonesia, tertinggi dipegang oleh India (4,3 juta ton), disusul Pakiskan (3 juta ton), Tiongkok (2,3 juta ton) dan Amerika Serikat (1,4 juta ton) baru kemudian Banglades (1 juta ton). Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) berharap, dengan dukungan kebijakan Pemerintah yang tepat, maka diharapkan ekspor sawit ke Amerika Serikat bisa segera mencapai 3 juta ton dalam setahun.
Dalam sebuah wawancara dengan Sawit.IDN, Ketua Umum Gapki, Eddy Martono, menyampaikan bahwa permintaan AS terhadap produk sawit Indonesia mengalami pengingkatan cukup signifikan dari tahun ke tahun. Banyak produk akhir di Amerika Serikat yang hanya bisa dibuat dengan baik jika menggunakan kelapa sawit. Karenanya, hasil negosiasi bilateral antara Indonesia dan Amerika Serikat akan menentukan permintaan lebih lanjut Amerika Serikat di tahun-tahun mendatang.
Di saat yang hampir bersamaan, kabar baik juga datang dari Uni Eropa. Penyelesaian perundingan IEU-CEPA secara resmi diumumkan dalam pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen di Brussel, Belgia pada Minggu (13/7/2025). Komitmen bersama ini tercapai setelah Indonesia melakukan 19 kali perundingan dengan Uni Eropa dalam kurun waktu hampir 1 dekade.
Diharapkan, kesepakatan ini akan segera dituntaskan dan diteken oleh kedua belah pihak bulan September tahun ini. Dengan demikian, maka IEU-CEPA memberikan kemungkinan perdagagan Indonesia dan Uni Eropa menjadi bebas tarif atau 0 persen. Bahkan Presiden Prabowo sempat menyebut semua produk diperdagangkan menjadi nol tarif.
Walaupun begitu, khusus produk pertanian, masih ada ganjalan dari Uni Eropa dengan diimplementasikannya EUDR pada akhir tahun ini. Ini artinya, ekspor sawit ke wilayah tersebut, mulai tahun depan harus memenuhi berbagai ketentuan pro lingkungan seperti unsur ketertelusuran.
Diatas semua itu, banyak analis menilai, komoditas kelapa sawit akan memiliki citra yang makin moncer di Eropa setelah ditekennya IEU-CEPA, serta keberhasilan negosiasi Indonesia – Amerika Serikat yang menurunkan tarif dari 32 persen menjadi 19 persen. Kini kedua belah pihak tinggal mendorong melalui negosiasi agar hal-hal yang masih tampak krusial dikompromikan. ()