Bulan puasa sudah datang dan akan disusul dengan festival lebaran dimana pangan menjadi salah satu kebutuhan yang paling mendasar. Pemerintah harus mengamankan kebutuhan sembako masyarakat, mulai dari beras, cabe hingga minyak goreng. Masalahnya, di tengah penurunan produksi, pasokan minyak domestik tampaknya lebih diprioritaskan untuk biodiesel.
Pasca Pemerintahan baru terbentuk, produk kelapa sawit menjadi semakin menjadi buah bibir dan ramai dijadikan bahan diskusi dimana-mana. Pasalnya, Pemerintah mulai tahun ini bertekad melaksanakan kewajiban (mandatory) biodiesel menjadi B40, kemudian B50 di tahun 2026, dan seterusnya. Tentu saja kebijakan peningkatan bauran biodiesel dari masa ke masa ini membuat sawit jadi rebutan antara sektor pangan dan sektor energi.
Menurut data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) sebagaimana dilansir oleh Kompas (28/2/25), serapan sawit untuk konsumsi domestik dari Januari hingga Oktober 2024 mencapai 19,64 juta ton dimana untuk pangan 8,27 ton, biodiesel 9,4 juta ton dan oleokimia 1,86 juta ton. Implementasi peningkatan B35 menjadi B40 di tahun ini secara otomatis menyedot lebih banyak pasokan minyak sawit. Padahal sejak tahun 2023 konsumsi sawit untuk energi juga sudah melampai kebutuhan pangan.
Melihat kondisi penurunan produktivitas sawit di Indonesia, rencana peningkatan bauran biodiesel 50% (B50) tampaknya akan menghadapi tantangan lebih besar. “Menurut data Gapki, pada 2010, yield atau produktivitas minyak sawit mentah (CPO) 4,3 ton per hektar per tahun, tetapi kemudian menurun hingga sekitar 3,3 ton per hektar per tahun. Apabila situasi tak berubah, alokasi CPO untuk bahan pangan bisa kian banyak tersedot ke energi,” demikian tulis Kompas.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono dalam International Conference of Oil Palm and Environment (ICOPE) 2025 di Sanur, Denpasar, Bali, Rabu (12/2/2025), menggarisbawahi, Indonesia merupakan negara produsen sawit terkemuka dunia yang menyuplai 58 persen kebutuhan CPO pasar global. Selain untuk pangan, sawit juga akan terus dibutuhkan untuk menopang ketahanan energi. ”Memang rencananya semakin lama akan semakin ditingkatkan, supaya ketergantungan energi fosil yang diimpor berkurang. Ini berarti produksi dan produktivitasnya harus dinaikkan. Kalau tidak naik, lama-lama jatah untuk pangan akan berkurang,” tuturnya.
Pentingnya Keseimbangan
Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) Setiyono menekankan pemanfaatan sawit untuk biodiesel merupakan langkah dan kebijakan yang baik. Meskipun demikian, perlu adanya pengaturan porsi antara untuk pangan dan kebutuhan biodiesel. Harus ada keseimbangan antara kebutuhan pangan dan energi, yang ujung-ujungnya sangat terkait dengan produksi nasional Indonesia. Untuk itu, bantuan kepada petani kecil hendaknya diprioritaskan.
Ketidakseimbangan dapat menimbulkan gejolak masyarakat. Seperti krisis minyak goreng yang pernah terjadi di tanah air pada tahun 2021-2012, yang ditandai dengan kelangkaan pasokan dan kenaikan harga minyak goreng. Penyebab krisis ini tidaik lain berupa ketidakstabilan pasokan minyak kelapa sawit, fluktuasi harga bahan baku dan kebijakan pemerintah. Ini mirip-mirip dengan kelangkaan tabung gas 3 kg beberapa waktu lalu.
Sulit dibayangkan di bulan Ramadhan plus hari-hari perayaan idul fitri kebutuhan dasar rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam mengalami kekurangan pangan akibat pasokan sawit yang menipis. Bulan puasa dengan segala kebutuhan pangannya harus dijadikan bulan khusus yang memerlukan perlakukan yang berbeda. Saat itu, sebagaimana cabe keriting dan daging sapi, persediaan minyak dan aneka bahan makanan produk turunan sawit akan berada pada high demand.
Sama halnya dengan puasa itu sendiri, yang pada dasarnya berisi pesan-pesan tentang keseimbangan hidup. Puasa mengajarkan kesimbangan fisik, termasuk konsumsi makananan yang seimbang seperti karbohidrat, protein dan lemak sehat. Dalam hal mental, puasa juga mengajarkan keseimbangan dalam manajemen stress, meditasi dan refleksi. Keseimbangan selalu menjadi kunci kesuksesan. ()