Indonesia dikenal sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Menurut data dari World Biogas Association, hampir 850 pabrik kelapa sawit di indonesia beroperasi setiap hari, mengolah tandan buah segar menjadi minyak mentah. Proses ini meninggalkan limbah dalam jumlah besar, salah satunya limbah cair yang dikenal sebagai
Palm Oil Mill Effluent (POME). POME mengandung senyawa organik yang, jika tidak diolah, bisa berubah menjadi gas metana. Namun, senyawa inilah yang sebenarnya menyimpan potensi besar sebagai sumber energi terbarukan.
Di tengah tantangan transisi energi dan kebutuhan menurunkan emisi, limbah ini sebenarnya menyimpan peluang besar. Teknologi saat ini memungkinkan POME diolah menjadi energi terbarukan, salah satunya
biomethane atau Bio-CNG (
compressed natural gas berbasis hayati). Melalui proses fermentasi tanpa oksigen di dalam biodigester, bakteri akan memecah senyawa organik dalam POME dan menghasilkan gas metana. Gas ini kemudian dimurnikan hingga kadar metananya tinggi, lalu dikompresi dan disimpan untuk digunakan sebagai bahan bakar (Ng et al., 2023; Sukardi, R, 2021).
Potensinya tidak kecil. Perhitungan oleh pemerintah Indonesia menunjukan, POME di Indonesia dapat menghasilkan lebih dari 1,5 miliar meter kubik biomethane per tahun—setara dengan 1,1 miliar liter solar (Sumber:
CNBC Indonesia). Angka ini cukup untuk menutupi sebagian kebutuhan bahan bakar sektor transportasi. Bahkan, jika limbah padat seperti tandan kosong juga dimanfaatkan, kapasitas produksi dapat meningkat hingga seperlima.
Dari sisi teknis, pemanfaatan Bio-CNG tidak memerlukan infrastruktur baru yang rumit. Gas yang sudah dikompresi bisa dikirim menggunakan tabung ke lokasi pengguna, baik itu depo bus, armada logistik, atau pembangkit listrik. Kendaraan yang ingin menggunakan bahan bakar ini hanya memerlukan sedikit penyesuaian mesin.
Selain Bio-CNG, riset juga menunjukkan POME dapat diolah menjadi bahan bakar lain seperti bioavtur (
sustainable aviation fuel). Melalui serangkaian proses kimia seperti hidrokraking, metana dari limbah sawit dapat diubah menjadi bahan bakar untuk pesawat. Sejumlah perusahaan teknologi telah mengembangkan metode ini, walau skalanya masih terbatas (Muanruksa, P., Winterburn, J., & Kaewkannetra, P. (2021)).
Tidak hanya sebatas teori, nyatanya pemanfaatan ini sudah mulai dilakukan di lapangan. Beberapa pabrik kelapa sawit di Indonesia telah menggunakan biomethane dari POME untuk menggerakkan pembangkit listrik internal mereka. Bahkan, dapat disalurkan langsung melalui jaringan pipa milik PGN, sehingga energi tersebut bisa dimanfaatkan oleh konsumen di lokasi yang lebih luas.
Secara lingkungan, pemanfaatan POME untuk energi membantu mengurangi emisi metana yang dilepaskan ke atmosfer. Beberapa studi memperkirakan penurunan emisi bisa mencapai puluhan juta ton setara CO₂ per tahun jika potensi ini dioptimalkan. Tambahan manfaat datang dari limbah padat hasil pemurnian gas yang bisa dijadikan pupuk organik.
Namun, jalan menuju pemanfaatan penuh POME tidak bebas hambatan. Biaya pembangunan fasilitas pengolahan masih tinggi, terutama bagi pelaku usaha kecil. Standar kualitas biomethane juga harus diterapkan agar aman untuk transportasi maupun distribusi. Selain itu, dibutuhkan kepastian kebijakan dan insentif yang mendorong investasi, termasuk peta jalan pengembangan di tingkat nasional.
Jika dikelola dengan baik, POME dapat menjadi contoh nyata bagaimana limbah industri bisa berubah menjadi sumber daya strategis. Di era ketika dunia mencari sumber energi bersih, Indonesia memiliki modal yang tidak hanya mampu mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil, tetapi juga membuka jalan bagi masa depan energi yang lebih berkelanjutan. ()