Indonesia masih kokoh sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, namun data terbaru mengungkap tren pertumbuhan produksi yang cenderung stagnan. Menurut data Reuters, tingkat pertumbuhan Crude Palm Oil (CPO) nasional selama lima tahun terakhir hanya sebesar sekitar 1,04 % per tahun. Angka ini jauh tertinggal dibanding pertumbuhan rata-rata minyak nabati lain seperti kedelai (sekitar 2,98 %) dan rapeseed yang menembus 6,25 %. Hal ini menunjukkan perlunya perhatian strategis agar sawit Indonesia tak ketinggalan di era persaingan global.
Kondisi stagnan ini semakin diperparah oleh tantangan struktural seperti kebiasaan menggunakan tanaman tua, rendahnya investasi di pemulihan kebun, dan kendala lahan. Selain itu, terjadi pula tren melambatnya pertumbuhan ekspor, dipicu oleh melemahnya ekonomi global, seperti terlihat dari data GAPKI yang menyebutkan bahwa ekspor CPO diperkirakan stagnan karena lemahnya permintaan. Dari sisi kebijakan, dorongan pada biodiesel seperti program B40 memang membuka pasar baru domestik, tetapi tanpa peningkatan produksi, peluang ini justru bisa membatasi volume ekspor lebih lanjut.
Sebagai respons terhadap tren ini, para pemangku kepentingan sawit bersama petani membentuk forum dialog untuk menyatukan visi. Fokus diskusi utama adalah mempercepat Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) sebagai solusi menaikkan produktivitas. Statistik dari BPDP menunjukkan produktivitas sawit rakyat saat ini sangat rendah, hanya sekitar 2–3 ton CPO per hektar per tahun, disebabkan umur tanaman yang sudah tua. Realisasi PSR secara nasional pun masih jauh dari target, kurang dari 50 % setiap tahun, yang menyiratkan perlunya percepatan komprehensif.
Strategi alternatif yang coba diterapkan termasuk skema kemitraan fleksibel yang memungkinkan petani menanam kembali dengan dukungan akses bibit unggul, pendampingan agronomi, serta tukar sistem off-taker lewat perusahaan sawit besar. Pendekatan ini dirancang agar petani tidak terbebani sendiri dalam investasi awal dan mendapat pendampingan hingga kebun kembali produktif. Model ini diimplementasikan di wilayah tertentu dengan hasil awal yang menggembirakan dan dibagikan sebagai best practice sebagaimana dilansir oleh Media Indonesia.
Menurut pakar dari Center for International Forestry Research (CIFOR), tantangan yang muncul adalah perlambatannya laju replanting, terutama karena pendapatan petani menurun saat periode tanaman belum berproduksi. Banyak petani merasa enggan memulai peremajaan karena risiko finansial. Padahal, prediksi menunjukkan bahwa tanpa percepatan replanting, produksi CPO berpotensi menurun drastis dalam beberapa dekade mendatang.
Ke depan, akselerasi PSR harus menjadi prioritas. Pemerintah dan pelaku industri perlu memperluas akses pembiayaan hijau, memperkuat pelatihan agronomi bagi petani, serta mendorong adopsi teknologi pertanian presisi untuk meningkatkan hasil kebun tanpa perlu perluasan lahan. Selain itu, strategi diversifikasi produk, seperti pengembangan minyak sawit untuk biojet atau oleochemicals, bisa menjadi opsi untuk menambah nilai tambah sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi berbasis sawit (Jurnal Multidsiplin West Science, 2024). Dengan pendekatan terpadu antara produksi, kebijakan, dan inovasi, Indonesia dapat memanfaatkan potensi sawit sepenuhnya, menjaga kedaulatan pangan dan energi serta meningkatkan kesejahteraan petani ke depan. ()