
Eskalasi konflik di kawasan Teluk pada akhir Februari 2026 memicu gangguan arus minyak, nafta, dan petrokimia melalui Selat Hormuz—jalur yang kritikal bagi rantai pasok bahan baku plastik global. Dampaknya bukan hanya kenaikan harga energi, tetapi juga kenaikan biaya logistik dan premi asuransi “war risk”, yang kemudian menekan pasar resin plastik konvensional (PE/PP/PET) di berbagai kawasan.
Menurut Reuters, gangguan aliran minyak dan petrokimia melalui Selat Hormuz memperketat pasokan kimia global, mendorong harga plastik seperti PE dan PP melonjak tajam, mencapai level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kenaikan harga ini dipicu oleh lonjakan biaya crude dan feedstock serta ketidakpastian logistik. Selain itu, premi asuransi perang untuk pelayaran di kawasan Teluk meningkat drastis, dengan "hull war risk premium" naik dari 0,25% menjadi 3%. The Business Times melaporkan bahwa konflik ini juga membatasi rute udara dan laut, menyebabkan lonjakan tarif kargo udara hingga 70% dan lebih dari 100 kapal kontainer terhambat di sekitar Selat Hormuz, memperburuk masalah rantai pasok, termasuk untuk resin plastik.
Dikutip dari PlasticPortal.eu, harga plastik di Eropa Tengah mengalami lonjakan signifikan dari Februari 2026 ke Maret 2026, dengan HDPE dan PP naik sekitar 33%, dan LDPE film meningkat sekitar 28%. Harga HDPE (injection) naik dari sekitar USD 1,33/kg menjadi USD 1,77/kg, sementara harga PP (homo) meningkat dari sekitar USD 1,39/kg menjadi USD 1,86/kg. Kenaikan ini konsisten dengan tekanan biaya akibat krisis pasokan feedstock dan logistik yang disebabkan oleh ketegangan geopolitik.
Namun, di tengah lonjakan harga plastik fosil ini, bioplastik berbasis sawit muncul sebagai alternatif yang semakin relevan. Jalur substitusi yang “paling sawit” umumnya bukan memakai CPO murni, melainkan biomassa/residu dan produk samping. PHA (polyhydroxyalkanoates), PLA (polylactic acid), dan bio-PE adalah beberapa contoh bioplastik berbasis sawit yang dapat dihasilkan melalui berbagai teknologi. PLA umumnya digunakan sebagai pengganti plastik seperti PET dan polistirena (PS) dalam kemasan makanan dan minuman, sementara PHA dapat menggantikan plastik konvensional seperti PP dan PE, terutama untuk produk sekali pakai yang membutuhkan sifat biodegradable. Berbeda dengan keduanya, bio-PE memiliki sifat yang identik dengan polyethylene konvensional, sehingga dapat langsung menggantikan plastik PE dalam berbagai aplikasi tanpa perubahan spesifikasi.
Berdasarkan laporan pasar IMARC Group, harga bioplastik seperti PLA berada di kisaran USD 2,5–3,5 per kg, sementara PHA dapat mencapai USD 4–9 per kg. Dalam kondisi normal, harga plastik konvensional berada di kisaran USD 1–1,5 per kg, namun dalam situasi krisis dapat meningkat hingga mendekati USD 1,8–2 per kg. Dengan demikian, meskipun bioplastik masih relatif lebih mahal, selisih harganya menjadi semakin kecil, sehingga mulai mendekati daya saing secara ekonomi.
PHA dibuat melalui fermentasi mikroba dengan sumber karbon dari minyak atau limbah sawit, dan dapat terdegradasi di berbagai lingkungan, termasuk air laut, menjadikannya alternatif ramah lingkungan. PLA, yang umumnya berbasis asam laktat, dapat diproduksi dari selulosa tandan kosong sawit (EFB), menawarkan solusi untuk beberapa polimer konvensional. Sementara itu, bio-PE dihasilkan melalui proses bio-etanol yang terdehidrasi menjadi etilena dan dipolimerisasi, dengan potensi besar jika bio-etanol berasal dari biomassa sawit. Terakhir, produk sampingan biodiesel, seperti gliserol, dapat dikonversi menjadi prekursor resin bio-based seperti epichlorohydrin, yang digunakan dalam pembuatan resin epoksi dan material lainnya.
Bioplastik berbasis sawit menawarkan manfaat dalam mengurangi ketergantungan pada bahan baku fosil, meskipun "biobased" tidak selalu berarti biodegradable; "compostable" umumnya dirancang untuk fasilitas kompos industri. PHA, misalnya, dapat terdegradasi di berbagai lingkungan, termasuk tanah, kompos, dan air. Namun, risikonya mencakup tantangan dalam tata kelola keberlanjutan sawit dan kredibilitas sertifikasi, di mana penerapan standar RSPO memerlukan traceability dan kepatuhan, terutama untuk petani kecil.
Selain itu, kebijakan peningkatan mandatori biodiesel (B40 menjadi B50) di Indonesia dapat memperketat ketersediaan feedstock berbasis CPO, sehingga lebih realistis menggunakan biomassa atau residu sawit untuk produksi bioplastik. Meskipun data spesifik alokasi CPO untuk bioplastik tidak ditemukan, bioplastik sawit berpotensi menjadi alternatif yang lebih layak dalam jangka pendek untuk aplikasi tertentu saat harga resin fosil tinggi, dengan prospek peningkatan kelayakan jika kapasitas produksi, biaya fermentasi, dan infrastruktur semakin berkembang.