Potensi hilirisasi kelapa sawit di Indonesia masih sangat besar. Salah satu potensi yang kini mulai dikembangkan adalah produksi beta-karoten (pro-vitamin A) dan tokoferol (vitamin E) dari buah sawit. Riset ini menjadi bagian dari kolaborasi antara Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI) dan PT Kimia Farma Tbk, yang dimulai pada minggu kedua bulan Mei (9/5).
Dilansir dari Majalah Hortus, Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, menyebut kolaborasi riset ini sebagai langkah strategis untuk mendukung pemenuhan gizi masyarakat. Produk kesehatan berbasis kelapa sawit ini diharapkan dapat berkontribusi dalam penanggulangan stunting dan wasting, sekaligus menjawab arahan Presiden RI untuk mengoptimalkan peran kelapa sawit dalam menjaga ketahanan nutrisi nasional. Bersumber dari UNICEF, wasting adalah kondisi kekurangan berat badan akibat gizi akut dalam waktu singkat, sedangkan stunting terjadi karena kekurangan gizi kronis yang menyebabkan anak tumbuh lebih pendek dari seharusnya.
Minyak sawit sendiri diketahui mengandung berbagai nutrisi penting seperti beta-karoten, tokoferol, MCT (Medium Chain Triglyceride), squalene, dan antioksidan yang bermanfaat bagi daya tahan tubuh. Sayangnya, proses pemurnian secara kimiawi dalam industri minyak sawit modern justru menghilangkan sebagian besar kandungan nutrisi tersebut. Akibatnya, kebutuhan vitamin A dan E lebih banyak dipenuhi dari suplemen sintetis atau sumber lain.
Meski riset ini merupakan terobosan penting, Indonesia masih tertinggal dibanding Malaysia dalam pengembangan hilirisasi sawit. Menurut pakar industri sawit, Sahat Sinaga, hingga tahun 2023 Indonesia baru menghasilkan sekitar 179 jenis produk turunan dari sawit. Sebaliknya, Malaysia sudah mengembangkan lebih dari 260 jenis produk, termasuk tokotrienol dan tokoferol, yang merupakan komponen vitamin E.
Tokotrienol diketahui memiliki aktivitas antioksidan yang kuat, termasuk kemampuan menangkal radikal bebas, mencegah kerusakan DNA dan sel, serta menekan pembentukan tumor. Sementara itu, tokoferol berperan penting dalam kesuburan dan pembentukan jaringan tulang. Harga pasar tokotrienol pun tergolong tinggi, mencapai sekitar US$800 per kilogram, atau setara Rp12,6 juta (kurs Rp15.774/US$).
Putu meyakini, kolaborasi pionir antara MAKSI dan Kimia Farma ini bisa menjadi tonggak sejarah baru dalam pengembangan industri agro nasional. Sementara itu, Ketua Umum MAKSI, Dr. Darmono Taniwiryono, menyoroti bahwa selama lebih dari satu abad, fokus industri hanya pada lemak dari buah sawit. Padahal, buah sawit juga mengandung karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan polifenol yang tidak kalah penting.
“Mengapa hanya lemak yang selama ini diproduksi? Karena pasarnya sudah terbangun sejak zaman Revolusi Industri di Eropa, lalu berkembang hingga kini menjadi berbagai industri turunan berbasis lemak,” ungkap Darmono dalam pernyataannya yang dikutip oleh Sawit Indonesia (3/6).
Menurut riset GAPKI, minyak sawit (baik dalam bentuk CPO maupun minyak sawit merah) mengandung vitamin A 15 kali lebih banyak daripada wortel, dan hampir 100 kali lipat dibanding pisang, untuk volume yang sama. Studi ilmiah juga menguatkan hal ini. Beberapa penelitian (Nagendran et al., 2000; Mayamol et al., 2007; Mukherjee & Mitra, 2009; Dauqan et al., 2011) menyebut bahwa minyak sawit merupakan “the world’s richest natural source of carotenoids.”
Beta-karoten dalam minyak sawit berperan sebagai antioksidan, prekursor, sekaligus sumber alami utama vitamin A. Tingginya kandungan karoten ini juga yang membuat warna minyak sawit merah tampak jingga kemerahan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa vitamin A dari minyak sawit bermanfaat secara medis, mulai dari mencegah kebutaan akibat defisiensi vitamin A, memperkuat sistem kekebalan tubuh, hingga membantu perbaikan status gizi anak-anak di daerah rawan stunting. Temuan ini juga diperkuat oleh laporan GAPKI serta hasil studi yang dipublikasikan oleh berbagai lembaga riset dan media seperti Majalah Hortus. ()