Presiden Donald Trump menerapkan strategi proteksionisme untuk menegaskan kekuatan negeri Paman Sam dalam perekonomian global. Manuver kebijakan Trump itu dinilai dapat mengobarkan perang dagang yang dapat memengaruhi stabilitas harga komoditas dunia. Ekspor komoditas utama Indonesia, tanpa terkecuali kelapa sawit diproyeksikan juga akan turut terdampak.
Menurut Ekonom senior Masyita Crystallin, kebijakan Trump tersebut dapat berdampak pada perekonomian Indonesia sebagai negara yang bergantung pada perdagangan internasional. "Indonesia, yang merupakan eksportir utama komoditas seperti batu bara, minyak kelapa sawit, dan karet, dapat terdampak oleh fluktuasi harga yang tajam akibat perang dagang global,” ungkap Masyita dilansir tempo.co (26/01).
Kebijakan proteksionisme yang dilakukan Presiden Trump salah satunya adalah menetapkan tarif sebesar 10% untuk semua impor ke AS melalui Perintah Eksekutif 14195 pada 1 Februari 2025. Kebijakan ini bertujuan untuk mendorong produksi domestik serta mengurangi ketergantungan AS pada produk impor. Menurut situs Tax Foundation, penerapan skema tarif 10% dapat meningkatkan pendapatan AS hingga USD 2 triliun.
Dampak tarif impor yang lebih tinggi menyebabkan harga minyak sawit menjadi lebih mahal di pasar AS sehingga mengurangi daya saingnya dibandingkan minyak nabati lain yang diproduksi di dalam negeri mereka. AS sendiri menurut USDA merupakan produsen kedelai terbesar kedua setelah Brasil, dengan produksi mencapai 115,38 juta metrik ton pada musim 2022/2023, atau sekitar 30% dari total produksi global.
"Perang dagang ada kemungkinan besar akan berpengaruh kepada ekspor kita. Apabila ini terus begini, pasti akan berdampak, karena ini pengaruhnya terhadap dunia, terhadap global. Negara-negara importir kita yang terpengaruh, pasti kita juga akan terpengaruh,” jelas Eddy Martono, Ketum Gapki kepada CNBC (7/3).
Berkaca pada perang dagang AS-Tiongkok pada 2018 yang menyebabkan gejolak perdagangan global, membuat pasar minyak nabati terdisrupsi dan harga CPO turun hingga lebih dari 20% dalam 6 bulan. Kali ini, peningkatan tarif impor oleh AS diproyeksikan dapat berpengaruh pada penurunan ekspor hingga lebih dari 15% pada tahun pertama serta penurunan harga CPO yang cukup signifikan. Penurunan harga komoditas ini, menurut para pakar ekonomi akan berimplikasi pada turunnya pendapatan negara dari sektor tersebut, sekaligus mengurangi daya beli masyarakat di wilayah penghasil komoditas.
Pada tahun 2023, Amerika menempati posisi ke-lima sebagai negara importir terbesar minyak sawit Indonesia dengan volume mencapai 1,9 juta ton (BPS). Dengan asumsi ekspor ke Amerika tidak mengalami perubahan pada tahun berikutnya (data belum tersedia), maka pada tahun 2025 angkanya dapat turun menjadi pada kisaran 1,6 juta ton sebagai konsekuensi dari kebijakan proteksionis. Hal ini menambah sederet problematika ekspor CPO Indonesia setelah sebelumnya juga menghadapi tantangan dari Uni Eropa.
Namun demikian, beberapa pihak seperti Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) memandang dinamika yang ada justru sebagai kesempatan Indonesia untuk diversifikasi ekspor ke negara-negara lain yang potensial seperti Tiongkok. "Dari China banyak sekali permintaan karena mereka sangat membutuhkan minyak sawit kita. Saya kira ini adalah kesempatan yang perlu kita manfaatkan," ungkap Sahat dikutip dari CNBC (7/3)
Untuk menghadapi dampak kebijakan proteksionisme AS terhadap ekspor minyak sawit, pemerintah Indonesia perlu mengambil langkah-langkah strategis guna memitigasi risiko. Diversifikasi pasar ekspor dengan menjalin kerja sama dagang yang lebih erat dengan negara-negara yang memiliki permintaan tinggi terhadap minyak sawit seperti Tiongkok menjadi sangat penting. Pemerintah juga perlu lebih serius meningkatkan nilai tambah industri sawit dengan mendorong hilirisasi produk-produk turunannya sehingga ketergantungan terhadap ekspor minyak sawit mentah dapat dikurangi. ()