Tidak ada kata menyerah. Ketika beberapa negara membatasi impor sawit, khususnya dari Indonesia, Pemerintah terus bergerak mencari pasar-pasar baru yang masih sangat memungkinkan. Bahkan Presiden Prabowo sendiri ikut mempromosikannya di sela-sela kunjungan kenegaraan.
Sawit Indonesia seolah dalam keadaan terjepit. Uni Eropa mencoba mengganjal dengan pelaksanaan UU deforestasi (EUDR) akhir tahun ini, India berusaha menurunkan impor dengan mengembangkan kebun sendiri, sementara Amerika Serikat memasang barikade tarif yang sangat tinggi. Pada saat yang bersamaan harga CPO merangkak naik diatas harga beberapa minyak nabati lainnya.
Walaupun keadaan kurang begitu menguntungkan, Indonesia tidak pernah patah arang. Semua stakeholders masih percaya bahwa sawit masih sangat dibutuhkan sebagai konsekuensi dari pertumbuhan manusia maupun kebutuhannya. Selain itu, hilirisasi (manfaat)nya pun terus bertambah dari waktu ke waktu.
Tidak mengherankan bila Indonesia kini semakin agresif memperluas pasar ekspor minyak sawit. Presiden Prabowo Subianto sendiri melakukan marketing sawit dengan bahasa yang jelas. Melalui pertemuan bilateral dengan Raja Yordania Abdullah II di Amman, misalnya, menandai babak baru kolaborasi yang diharapkan memperkuat dominasi Indonesia dalam industri sawit global.
Menurut data dari Databoks Katadata (20/2), Indonesia mengekspor sekitar 24,21 juta ton minyak kelapa sawit sepanjang tahun 2024, dengan nilai ekspor mencapai sekitar USD 22,87 miliar. Nilai ini memang masih jauh dari impor India yang rata-rata mencapai 5 juta metrik ton dalam setahun. Namun, membuka lembaran-lembaran baru ekspor sawit di berbagai belahan dunia pada akhirnya dapat menggantikan mereka yang sudah enggan bekerjasama dengan kita. Istilahnya, sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit.
Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Indonesia dan Yordania ini (15/4) mencakup berbagai aspek, termasuk peningkatan ekspor minyak sawit, pengembangan industri hilir, dan pelatihan sumber daya manusia. Dengan dukungan dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), kerja sama ini diharapkan dapat meningkatkan volume ekspor minyak sawit Indonesia ke Timur Tengah, khususnya ke Yordania dan negara-negara sekitarnya.
Dilansir dari laporan Satu Data Pertanian 2024, saat ini Yordania belum termasuk dalam jajaran negara importir minyak sawit terbesar di dunia maupun di kawasan Timur Tengah, posisi tersebut masih didominasi oleh negara-negara seperti India, Tiongkok, Mesir, dan Uni Emirat Arab. Meski demikian, peluang pertumbuhan pasar tetap terbuka luas. Hal ini terbukti dari pemberitaan Antara News, di mana pemerintah Yordania menyatakan kesiapan untuk mengimpor minyak kelapa sawit (CPO) dari Indonesia dalam jumlah besar tanpa batasan volume, bergantung pada kebutuhan industri mereka.
Berdasarkan data proyeksi populasi terbaru, jumlah penduduk Yordania diperkirakan mencapai sekitar 11 juta jiwa pada tahun 2025. Dengan pertumbuhan sektor makanan, energi, dan industri hilir lainnya, permintaan terhadap produk berbasis kelapa sawit, seperti minyak goreng dan biodiesel, diprediksi akan meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
GAPKI, sebagai asosiasi pengusaha kelapa sawit, memiliki peran penting dalam mendukung kebijakan pemerintah untuk menjadikan sawit sebagai komoditas strategis. Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menyatakan bahwa pihaknya siap bersinergi dengan pemerintah dalam menghadapi tantangan global dan menjaga daya saing industri sawit Indonesia. Salah satu langkah konkret yang diusulkan adalah pembentukan Badan Sawit, yang akan mengelola sektor ini secara lebih terstruktur dan efisien.
Meski pasar Timur Tengah menawarkan potensi besar, terdapat tantangan yang perlu dihadapi, seperti regulasi ketat dan persaingan dengan produk serupa dari negara lain. Namun, dengan kerja sama ini, Indonesia dapat memanfaatkan Yordania sebagai pintu gerbang untuk memasuki pasar yang lebih luas di kawasan tersebut. Selain itu, pengembangan produk hilir seperti biodiesel dan oleokimia juga menjadi fokus utama untuk meningkatkan nilai tambah ekspor sawit Indonesia.
Kerja sama antara Indonesia dan Yordania dalam sektor kelapa sawit merupakan langkah strategis yang memperkuat posisi Indonesia di pasar global. Dengan dukungan dari GAPKI dan komitmen pemerintah, diharapkan industri sawit Indonesia dapat berkembang pesat dan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. ()