Setelah Presiden Trump menurunkan tarif impor dari Indonesia dari 32 persen menjadi 19 persen, kini ada kabar baik lainnya: sawit, karet dan kakao diperlakukan secara khusus. Dalam negosiasi lanjutan yang dipimpin oleh Menko Perekonomian, ketiga komoditas tersebut akan terkena tarif dibawah 19 persen. Pastinya berapa belum diumumkan.
Informasi yang masih belum tuntas itu makin melegakan Indonesia dan pasti akan menjadi kabar gembira bagi para pihak yang berkecimpung dalam dunia sawit. Maklumlah, Amerika Serikat merupakan salah satu tujuan ekspor sawit Indonesia yang masuk dalam kelompok lima besar. Dengan penurunan tarif dibawah 19 persen, maka harga sawit dan turunannya dari Indonesia di Amerika Serikat, diyakini akan sangat kompetitif dibanding sawit dari Malaysia.
“Kita diberikan juga kurang dari 19% untuk komoditas sumber daya alam yang Amerika tidak produksi, seperti kelapa sawit, kakao, kemudian karet,” kata Airlangga dalam acara Investor Daily Round Table (IDRT) di Hotel Mulia, Jakarta, Senin (28/7/2025) sebagaimana dikutip media online BeritaSatu.
Menurut Airlangga, selain kegigihan dari negosiator dalam memperjuangkan tarif yang rendah bagi berbagai komoditas Indonesia, tarif dibawah patokan Presiden Trump ini dikatagorikan sebagai sweetener atau bonus dalam skema kerja sama perdagangan kedua negara. Klausul ini bisa diraih mengingat berbagai produk unggulan Indonesia tersebut tidak memiliki substitusi domestik di AS, sehingga tidak menimbulkan persaingan langsung dengan produk lokal mereka. Hal ini menjadi dasar pertimbangan utama dalam pemberian tarif preferensial.
Konon kabarnya, tim negosiasi Indonesia masih terus merangsek Amerika Serika untuk mendapat tarif khusus atas berbagai hasil sumber daya alam lainnya yang tidak dimiliki negeri Paman Sam tersebut. Diharapkan, meskipun Indonesia diwajibkan untuk memborong beberapa komoditas AS dalam jumlah yang tidak sedikit, dengan adanya tarif khusus ini, pada akhirnya akan menciptakan surplus perdagangan bilateral bagi Indonesia.
Kabar gembira ini sudah selayaknya disyukuri oleh bangsa Indonesia. Dengan tarif 19 persen saja sawit Indonesia diperkirakan sudah bisa berkibar di Amerika Serikat, mengalahkan sawit negeri jiran Malaysia yang terkena tarif sebesar 25 persen. Akan jauh lebih bermakna manakala tarif khusus untuk sawit ini bisa diturunkan lagi sampai angka antara 10-15 persen, atau minimal 10 persen dibawah negeri jiran. Hal ini bukan suatu yang mustahil mengingat sawit di Amerika Serikat merupakan kebutuhan dasar untuk pangan yang nyaris tak “tergantikan” seperti untuk pembuatan mentega dan lainnya.
Secara psikis, keberhasilan sawit Indonesia merangsek pasar Amerika Serikat secara massif juga akan mengangkat citra sawit Indonesia yang selama ini dikesankan tidak sehat oleh sebagian masyarakat internasional. Begitu berkibar di negeri Paman Sam, maka penetrasi pasar-pasar baru di berbagai penjuru dunia akan relatif dengan mudah dilakukan.
Sebagaimana diprediksi oleh beberapa ahli, keberhasilan sawit Indonesia di Amerika Serikat juga akan mendongkrak negosiasi sawit dengan Uni Eropa yang dalam waktu dekat akan segera menerapkan EUDR. Meskipun tidak akan mengalami perubahan secara signifikan, namun penerapan EUDR kemungkinan bisa lebih lunak dan lebih berpihak kepada para petani sawit yang belum sepenuhnya dapat melaksakan ketertelusuran.
Kita semua berharap bahwa sawit Indonesia segera membanjiri Amerika Serikat mulai awal Agustus ini, di saat tarif baru diterapkan. Kalau dalam beberapa tahun terakhir ekspor sawit Indonesia ke negari Paman Sam terus mengalami kenaikan, maka kita akan menyongsong suatu masa kejayaan sawit sebagai hasil dari negosiasi yang cerdas. ()