
Minyak sawit tetap menjadi komoditas strategis global pada 2026, digunakan dalam pangan, kosmetik, hingga bioenergi. Berdasarkan laporan United States Department of Agriculture (USDA) Oilseeds: World Markets and Trade 2025/2026, produksi minyak sawit dunia masih terkonsentrasi pada sejumlah negara tropis, dengan dominasi kuat Asia Tenggara.
Konsentrasi tersebut terutama tercermin pada posisi Indonesia dan Malaysia sebagai dua produsen utama dunia. Indonesia mempertahankan posisi teratas dengan produksi sekitar 46 juta ton pada tahun pemasaran 2025/2026, atau sekitar 58 persen dari total produksi global. Selain sebagai eksportir terbesar, Indonesia juga menjadi konsumen domestik yang signifikan, terutama melalui program biodiesel yang menyerap volume besar CPO.
Di posisi kedua, Malaysia memproduksi sekitar 19–19,5 juta ton, menurut laporan USDA dan data Malaysian Palm Oil Board (MPOB). Stabilitas produksi di Sabah dan Sarawak menopang peran Malaysia sebagai eksportir utama ke India, Tiongkok, dan Uni Eropa. Bersama Indonesia, kedua negara ini membentuk pusat gravitasi pasokan minyak sawit dunia.
Di luar dua raksasa Asia Tenggara tersebut, terdapat kelompok produsen menengah yang memperkuat pasokan regional. Thailand, misalnya, menghasilkan sekitar 3,3 juta ton, dengan sebagian besar produksi digunakan untuk kebutuhan domestik, khususnya biodiesel, sebagaimana dilaporkan dalam laporan Global Agricultural Information Network (GAIN) USDA.
Sementara itu, di Amerika Latin, Kolombia menjadi produsen terbesar dengan output sekitar 1,9 juta ton. Industri sawitnya tersebar luas dan berorientasi pada pasar domestik sekaligus ekspor ke Eropa. Di Afrika, Nigeria memproduksi sekitar 1,5 juta ton, meskipun konsumsi dalam negeri yang tinggi sering melampaui kapasitas produksi. Tantangan produktivitas dan infrastruktur masih menjadi faktor pembatas utama.
Negara lain seperti Guatemala dan Papua Nugini juga memainkan peran penting meskipun dalam skala lebih kecil. Guatemala memproduksi sekitar 1 juta ton dengan orientasi ekspor yang kuat, sedangkan Papua Nugini menghasilkan sekitar 800–850 ribu ton dan mengekspor sebagian besar produksinya. Data ini merujuk pada estimasi USDA 2025/2026.
Tingginya konsentrasi produksi pada segelintir negara membuat pasar minyak sawit global sangat sensitif terhadap kebijakan domestik, cuaca ekstrem, maupun gangguan logistik di kawasan Asia Tenggara. Salah satu contoh paling nyata terjadi pada 2022 ketika Indonesia memberlakukan larangan sementara ekspor CPO dan turunannya untuk menstabilkan harga minyak goreng domestik. Kebijakan tersebut segera memicu lonjakan harga minyak nabati global dan memengaruhi negara-negara pengimpor utama seperti India dan Tiongkok. Peristiwa ini menunjukkan betapa keputusan di tingkat nasional dapat berdampak langsung pada stabilitas pasar internasional.
Secara keseluruhan, Indonesia dan Malaysia menyumbang sekitar 85 persen produksi global minyak sawit. Tingkat konsentrasi ini menjadikan kedua negara sangat menentukan dinamika harga, pasokan, serta kebijakan perdagangan internasional.
Dalam konteks permintaan global yang terus meningkat, tantangan ke depan bukan hanya menjaga volume produksi, tetapi juga memastikan praktik keberlanjutan, peningkatan produktivitas, dan stabilitas rantai pasok. Dengan struktur pasar yang sangat terpusat, kebijakan dan kinerja dua produsen utama akan terus memengaruhi arah industri sawit dunia.