
Indonesia dan Malaysia selama ini dikenal sebagai dua raksasa kelapa sawit dunia. Dari sisi produksi dan luas lahan, Indonesia jelas unggul. Namun, ketika berbicara tentang produktivitas per hektare, Indonesia masih tertinggal dari negara tetangga. Data terbaru menunjukkan bahwa persoalan ini bukan sekadar persepsi, melainkan fakta yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan paparan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), produktivitas sawit Indonesia pada 2025 tercatat sebesar 3,61 metrik ton per hektare per tahun. Sementara itu, Malaysia telah mencapai 4,02 metrik ton per hektare per tahun pada periode yang sama. Selisih ini terlihat kecil secara angka, tetapi secara agregat berdampak besar. Dalam paparan tersebut, luas kebun sawit Indonesia yang digunakan sebagai basis perhitungan berada di kisaran 12,9 juta hektare, sementara Malaysia sekitar 5,04 juta hektare. Dengan basis tersebut, produksi Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 46,5 juta metrik ton, sedangkan Malaysia 20,2 juta metrik ton.
Ketimpangan produktivitas ini bukan fenomena baru. Pada 2023, produktivitas Indonesia tercatat 3,63 metrik ton per hektare, masih di bawah Malaysia yang mencapai 3,68 metrik ton. Di 2024, jaraknya bahkan melebar ketika Malaysia naik ke 3,82 metrik ton per hektare, sementara Indonesia justru turun ke 3,53 metrik ton per hektare. Artinya, tren beberapa tahun terakhir menunjukkan Malaysia lebih konsisten dalam meningkatkan hasil per satuan lahan.
Perlu dicatat, sejumlah data pemerintah terbaru menyebutkan total luasan kebun sawit nasional dapat mencapai lebih dari 16 juta hektare, tergantung metode pendataan dan klasifikasi kebun (perusahaan dan rakyat). Jika menggunakan asumsi luasan yang lebih luas tersebut, maka ruang peningkatan produksi Indonesia menjadi jauh lebih signifikan.
Secara teknis, ada sejumlah faktor yang menjelaskan kondisi ini. Direktur Palmoil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, menyoroti persoalan varietas dan kualitas bibit yang masih menjadi kelemahan di Indonesia. Banyak kebun rakyat menggunakan benih yang tidak optimal, sehingga potensi hasil tidak maksimal. Selain itu, praktik agronomi dan manajemen kebun di Indonesia dinilai belum seefisien Malaysia.
Faktor lain yang turut memengaruhi adalah komposisi umur tanaman. Produktivitas tertinggi biasanya dicapai ketika proporsi tanaman berada pada usia produktif optimal. Jika komposisi tanaman didominasi oleh tanaman tua atau belum matang, rata-rata produktivitas nasional akan terdampak. Perubahan struktur umur kebun dalam beberapa tahun terakhir turut memengaruhi capaian produksi per hektare Indonesia.
Selain faktor teknis tersebut, aspek manajemen terpadu dan kepatuhan terhadap regulasi menjadi pembeda penting. Malaysia relatif lebih terintegrasi dalam tata kelola industri sawit, mulai dari pembibitan, riset, hingga standar kepatuhan yang konsisten. Di Indonesia, koordinasi kebijakan masih kerap menghadapi tumpang tindih regulasi dan fragmentasi kewenangan, yang pada akhirnya menimbulkan inefisiensi dalam sistem produksi dan distribusi.
Dari perspektif historis, Malaysia juga lebih awal menjadikan sawit sebagai tulang punggung sektor pertanian nasional. Sejak awal 2000-an, Malaysia telah mengonsolidasikan sistem hulu secara lebih terstruktur. Indonesia, yang pada masa lalu masih menikmati booming minyak dan gas, relatif lebih lambat menjadikan sawit sebagai fokus strategis pembangunan pertanian. Keterlambatan ini berdampak pada pengembangan riset, sistem pembibitan, dan tata kelola hulu.
Meski demikian, kondisi ini tidak sepenuhnya negatif. Dengan luas lahan yang jauh lebih besar, ruang peningkatan produktivitas Indonesia masih terbuka lebar. Jika produktivitas nasional mampu naik mendekati 4 ton per hektare saja, maka dengan asumsi luasan sekitar 16 juta hektare, tambahan produksi berpotensi mencapai lebih dari 6 juta ton per tahun tanpa perlu membuka lahan baru. Dalam konteks tekanan global terhadap ekspansi lahan, peningkatan produktivitas menjadi strategi yang lebih berkelanjutan.
Karena itu, isu produktivitas bukan sekadar soal kalah atau menang dari Malaysia, melainkan soal daya saing jangka panjang. Jika Indonesia mampu memperbaiki kualitas bibit, mempercepat peremajaan kebun, dan meningkatkan praktik budidaya, potensi sebagai produsen terbesar dunia dapat diperkuat bukan hanya dari sisi volume, tetapi juga dari efisiensi dan kualitas.