
Makin banyak orang menganaktirikan sawit, makin banyak manfaat ditemukan. Bahkan, pokok pohon sawit tua yang sudah waktunya diremajakan pun masih bisa menghasilkan nira gula. Tidak main-main, potensi pasarnya bisa mencapai Rp 3 triliun dalam setahun.
Nira sawit adalah cairan putih yang mempunyai rasa manis, dihasilkan dengan cara menyadap tangkai bagian atas atau malai sawit yang belum matang, atau dengan menyadap batang sawit tua yang telah ditebang.
Nira batang sawit, menurut sebuah riset yang dilakukan oleh Prof. Siti Nurdjanah dari Unila, mengandung 7–14% gula yang terdiri dari glukosa, fruktosa, sukrosa, arabinosa, dan galaktosa. Selain itu, nira juga mengandung asam amino, asam organik, dan vitamin (B dan C).
Di tengah-tengah cerita merangkaknya harga sawit yang terdorong oleh perang antara Iran dan Israel, hilirisasi sawit terus digeber oleh semua pihak terkait. Mengingat potensinya yang luar biasa, Pemerintah Indonesia mencoba melakukan aksi hilirisasi sawit yang terjangkau oleh masyarakat umum. Itulah yang kemudian dilakukan oleh Kementerian Perindustrian dengan meresmikan proyek percontohan produksi nira gula sawit dari batang kelapa sawit tua hasil peremajaan.
Selama ini, batang kelapa sawit yang ditebang pada masa peremajaan sering kali dianggap sebagai limbah tanpa nilai. Namun, kini mulai terbuka peluang untuk mengolah batang tersebut menjadi nira sawit, bahan baku yang bisa diolah menjadi gula merah berkualitas tinggi.
Menurut Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, dalam keterangan tertulis sebagaimana dikutip detik.com (24/6), proyek percontohan ini merupakan inisiatif dalam mengimplementasikan kebijakan percepatan hilirisasi industri kelapa sawit dan mengoptimalkan potensi bahan baku alternatif batang sawit tua hasil peremajaan yang belum dimanfaatkan.
Menurutnya, satu hektare lahan sawit yang terdiri dari 25–30 pohon tua mampu menghasilkan 5.000 hingga 6.000 liter nira per bulan. Jika dikalikan dengan target peremajaan sebesar 300.000 hektare per tahun, potensi produksi nira gula sawit bisa mencapai sekitar 1,5 hingga 1,9 juta kiloliter per tahun.
Dari jumlah tersebut, nilai pasarnya bisa mencapai sekitar Rp 3 triliun. Putu menyebut potensi besar ini sangat signifikan untuk menumbuhkan usaha kerakyatan berbasis pemberdayaan masyarakat sekitar lokasi perkebunan.
“Produk gula merah yang dihasilkan dari nira gula sawit memiliki pasar yang sangat prospektif sebagai bahan baku industri kecap, sirup tradisional, dan gula cair siap konsumsi,” ungkap Putu (laman Sawit Sumber Mas Sarana, 24/6). Menurutnya, teknologi pengolahan menjadi gula merah ini telah berkembang pesat, dan untuk keamanan penggunaan sebagai gula konsumsi telah didukung oleh standar SNI 01-6237-2000 Gula Merah.
Oleh karena itu, keterlibatan perusahaan perkebunan kelapa sawit, koperasi, serta usaha mikro, kecil, dan menengah diharapkan dapat menciptakan sinergi yang menguntungkan kedua belah pihak sekaligus memperkuat keberlanjutan ekonomi masyarakat di kawasan peremajaan.
Gula cair dari nira batang sawit tua merupakan alternatif alami dan sehat untuk gula kristal putih tebu serta pemanis buatan. Industri minuman, permen, dan makanan olahan banyak membutuhkan gula cair. Inilah yang bisa menjadi potensi pasar gula cair dari nira batang sawit tua. ()